kumpul seduluran…

29 Apr

Alhamdulillah beberapa hari kemarin kawan-kawan di UNNES bisa mengadakan ngumpul "seduluran" di samping ahass simpang 7 sekaran..

IMG_0960
acara awalnya diadakan setiap senin malam, namun mengingat kawan-kawan banyak yang tidak bisa akibat kuliah pagi keesokan harinya kemudian acara kumpul-kumpul ini di jadwal ulang menjadi setiap jumat malam.

IMG_0959

semoga tiap minggu makin nambah yg datang dan juga bisa ditularkan pada kawan-kawan di universitas lainnya.

tetep solid kawan!!

PMBS JAYA!!

PMBS goes to Jepara (again)

16 Apr

IMG_1135

untuk kedua kalinya PMBS menyambangi Pantai Bandengan yang terletak di kabupaten Jepara pada 15 April 2012 kemarin. Jalan-jalan kali ini selain merupakan program kerja divisi minat dan bakat juga sekaligus untuk memperingati hari lahir PMBS yang jatuh pada 7 April seminggu sebelumnya. Kegiatan ini diikuti lebih dari 20 dari berbagai universitas di semarang.

IMG_1038

Diawali briefing dan doa dipimpin oleh ketua PMBS, El Hakim. Kemudian pemberangkatan dimulai dari SPBU di daerah kaligawe.

IMG_1070
IMG_1077 IMG_1071 IMG_1068

Setelah sampai kira-kira pukul 11.00, acara dibuka oleh Fahmi (Sahab) sebagai ketua panitia kegiatan, disusul dengan sambutan dari Hakim.
Dilanjut dengan acara makan siang bersama "seanane". terlihat peserta sangat kelaparan, mungkin karena jam pemberangkatan yang sangat pagi sehingga mereka tidak sempat sarapan.

IMG_1119

Tujuan selanjutnya : Pulau Panjang.
Jarak Tempuh : 30 Menit perjalanan laut.
Sewa Perahu : Rp 10.000 per orang.
Masuk Pulau : Rp 2.000 per orang.

wong desa numpak perahu = MABOK.

IMG_1134

Tiba di Pulau Panjang.
Dipimpin oleh Baim, peserta digiring untuk sholat bersama di musholla terdekat.

setelah selesai sholat, peserta dilepas untuk berenang dan bermain-main di laut.

IMG_1166

IMG_1153IMG_1154IMG_1152IMG_1165IMG_1155IMG_1178IMG_1181IMG_1157IMG_1183

puas berbasah-basah ria di laut, saatnya kembali ke Jawa !!

IMG_1126IMG_1103IMG_1105

IMG_1087

Sampai Jumpa di acara selanjutnya…

PMBS JAYA !!!

Sudahkah kita sadar???

9 Apr

Telah lama indonesia mengenyam rasa kebebasan dari cengkraman zaman kolonialisme 365 tahun adalah waktu yang tidak sedikit yang kemudian membekaskan sebuah pesakitan yang amat mendalam bagi sebagian besar rakyat indonesia. Sudah lama saudaraku,, hampir 67 tahun lamanya kita terbebas dari prahara tersebut, yang semestinya menjadi langkah awal “starter” dalam kita memulai hari yang baru,hari yang dengan langkah pasti pula membangun bangsa Indonesia dengan sebesar-besarnya. Membangun tatanan masyarakat yang adil dan makmur, itulah yang menjadi pemersatu kita jadi “bahan “ yang menjadikan para pendahulu kita menyatukan visi serta menyatukan derap langkah menuju indonesia merdeka seperti sekarang ini.Kita semua yang hidup dalam satu wilayah,satu nasib sudah tentunya menginginkan hal tersebut.
Namun….
Kenapa harus ada kata “namun”..?????
Kita selaku rakyat indonesia yang sadar, yang peduli terhadap nasib bangsa kita kini hari,tentulah dapat merasakan dapat pula melihat bagi sebagian besar dari kita yang mempunyai media televisi ataupun yang lain. Bahwa semua yang kita lihat,yang kita dengarkan dari semua yang sudah disebutkan tadi adalah tidak seperti apa yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa ini, cita cita segenap rakyat indonesia yang menjadi satu visi tadi!! Mengapa??
Karena yang kita lihat belakangan ini hanyalah seperti petandingan sepak bola yang amat membosankan dan sama sekali tidak “sportif”. Dimana adanya kubu yang bertanding untuk ambisi berkuasa di tahta, ada yang bertugas menjaga “gawang” kekuasaan, ada yang berlari untuk menyerang dan menghancurkan lawan, ada yang “berfikir” untuk bagaimana tetap memegang kekuasaan dan tetap mendapatkan uang. Oh iya,,, jangan lupa ada pula lembaga yang yang mengadili setiap pelanggaran yang terjadi. Namun dalam petandingan hanya berlari-lari mengikuti pemain. Jikalau ada pelanggaran yang tidak terlihat, toh mereka juga manusia yang sedang bakerja dan “doyan” uang. Ingatlah bahwa yang menentukan setiap pelanggaran adalah wasit.
Lihatlah belakangan ini yang ada hanya isu yang tak asing lagi. Masih tentang penanganan hukum yang bisa dikatakan “lembek”. Tak ada jaminan yang baik untuk rakyat yang notabene “kecil”. Banyak kasus yang tidak mampu dikuak oleh para panegak hukum yang sekarang, wilayah peradilan juga menjadi ladang kasus suap. Disamping itu aturan hukum yang ada belumlah cukup untuk membuat pemain hukum itu jera. Bayangkan seorang yang sampai korupsi “sekian” milyar hanya dihukum “beberapa” tahun saja. Padahal untuk sekelas guru saja butuh waktu berpuluh-puluh tahun untuk mendapatkan hasil “sekian” tadi dengan hanya mengandalkan penghasilan mengajarnya. Apalagi rakyat kecil?? Membayangkannya saja sudah tak mampu,, apalagi saya??
Melihat kinerja pemerintahan sekarang pun layaklah disebutkan gagal.mengapa?? mereka yang duduk di kursi nyaman pemerintahan hanya mementingkan nasib golongannya, hanya mementingkan nasib individunya, hanya mementingkan kepentingan jangka pendek,mumpung masih duduk di kursi nyaman. Sehingga tak mau lengser meskipun sudah jelas – jelas tidak becus.
Pembangunan yang tidak merata,kemiskinan yang tak ada habisnya,, Di sana masih banyak bagian dari rakyat Indonesia masih sulit untuk makan, bahkan untuk sekolah pun yang notabene merupakan tujuan bangsa ini dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa masih sulit, terbatas dalam pelayanan pendidikan, media pendidikan, sarana dan prasarana yang memadai. Bahkan masih ada yang harus berjalan berkilo-kilometer hanya untuk sekolah, meskipun tempatnya bersekolah masih jauh dari kata layak. Tentu kita juga dapat membayangkan jika yang dahulu menyatukan visi kecewa dan tak lagi menjadi visi yang satu.
Sedangkan sebagian besar dari masyarakat kita tidaklah sadar bahwa kita masih dijajah. Panjajahan dalam waktu kini telah berevolusi, berbeda dengan pejajahan saat zaman kolonialisme yang menyerap rezeki rakyat dan hasil alam. Penjajahan kini dikonsentrasikan pada pemikiran, budaya, sosial, ekonomi. Sudahkah kita sadar akan hal itu?? Imperialisme yang dari dahulu diperangi ternyata memang memberikan dampak yang amat membahayakan bagi kedaulatan negeri ini. Apakah dampaknya?? Lihatlah kenyataannya kini, kebudayaan masyarakat Indonesia tidaklah mencerminkan kebudayaan yang ke-timuran. Banyak yang befikir kini apakah produk terbaru dari imperialisme yang akan digunakan?? Bukannya bagaimana kita dapat membuatnya sendiri tanpa harus menyerap kebudayaan mereka??
Dari segi ekonomi kapitalisme telah menjajah secara terang-terangan. Banyak dari kita kini lebih memilih membeli dari pedagang besar. Sehingga pedagang kecil kini lebih sering membersihkan dagangannya dari debu ketimbang menukarnya dengan uang untuk hidupnya, untuk sekolah anak-anaknya.
Lalu apa yang bisa dilakukan kita yang secara lahir sudah ditakdirkan menjadi rakyat Indonesia?? Yang sudah di takdirkan dalam nasib yang sama,tinggal di tanah air Indonesia dengan semua yang ada di dalamnya. Sudahlah tentunya kita jangan hanya menonton saja,, bangsa ini tengah sakit saudaraku. Segeralah bangkit kita satukan “nawaitu” kita untuk membangun bangsa demi segenap tumpah darah indonesia. Jadilah mandiri, jangan tegantung dari pertolongan orang lain. Kerena dengan segenap kepercayaan dan usaha sudah tentu kita mampu!!
Janganlah lupakan bahwa para pendahulu kita telah mewariskan sebuah “pegangan” dalam melanjutkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan pula kita merusak sebuah pegangan yang sudah tentu baik. Menjadi insan yang sempurna memang sangatlah sulit, namun dalam berusaha itu sesungguhnya tidaklah sulit. Sesungguhnya kemakmuran itu nyata!!
Jangan tunggu kehancuran datang..!!

pinoe’s

Bagaimana Seharusnya Mahasiswa Berpikir

24 Des

Bagaimana seharusnya mahasiswa berpikir??
Kalau mahasiswa diberi pertanyaan ini sudah tentu mereka bisa menjawab dengan baik. Pasti ada yg menjawab: tentu saja berpikir kreatif dan berpikir maju akan masa depan. Yups…..jawaban yang tepat sekali dan sangat baik. Namun, faktanya masih sedikit sekali mahasiswa yang bertindak (action) sesuai kalimat diatas.

Dahulu saya sempat mengeluh kepada dosen mengenai kurikulum yang di ajarkan sangat sederhana sekali menurut saya waktu itu. Penuh kekecewaan, bagaimana mungkin saya bisa dengan CEPAT berhasil dan sukses jika materi yang diajarkan hanya seperti ini (sederhana). Pikiran saya mulai terbuka ketika keluhan saya di jawab. Sang dosen menjawab, kalau kita mengharapkan DIRI kita menjadi sukses HANYA dari kampus maka itu mustahil. Kita hanya menjadi orang biasa saja. Materi dari kampus hanya memberikan 20% pengetahuan. Selebihnya jika ingin berkembang menjadi 100 Persen maka carilah DILUAR KAMPUS. Baca lebih lanjut

Meredupnya Gerakan (Mahasiswa) Kritis

24 Des
Sepertinya gerakan mahasiswa saat ini sudah mulai meredup. Suara-suara kritis mahasiswa sudah jarang terdengar. Padahal, persoalan bangsa semakin besar. Dalam bidang politik dan hukum misalnya, persoalan korupsi dan mandulnya penegakan hukum merupakan persolan mendasar. Sementara dalam bidang ekonomi ditandai dengan ketidakberdayaan rakyat memenuhi kebutuhan hidupnya. Belum lagi dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan segala aspek kehidupan berbangsa ditandai dengan segudang persoalan. Lantas, dimana peran mahasiswa yang katanya sebagai agent of change dan agent of social control?
Kalau kita amati akhir-akhir ini, suara kritis justru datang dari masyarakat biasa dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Misalnya suara penolakan gedung baru DPR dan kritikan terhadap pemerintahan SBY-Boediono, lebih sering disuarakan masyarakat biasa. Timbul pertanyaan, ada apa dengan gerakan mahasiswa sekarang ini? Baca lebih lanjut

NASIONALISME, ISLAMISME DAN MARXISME sebagai Aria Bumiputera

24 Des

NASIONALISME, ISLAMISME DAN MARXISME Sebagai Aria Bimaputera, yang lahirnya dalam jaman perjuangan, maka INDONESIA-MUDA ini melihat cahaya hari-hari pertama dalam jaman dimana rakyat-rakyat Asia, sedang berada dalam perasaan tak senang dengan nasibnya. Tak senang dengan nasib ekononominya, tak senang dengan nasib politiknya, tak senang dengan segala nasib yang lain-lainnya. Jaman "senang dengan apa adanya", sudahlah lalu. Jaman baru: jaman muda, sudahlah datang sebagai fajar yang terang cuaca. Jaman teori kaum kuno, yang mengatakan, bahwa "siapa yang ada di bawah, harus terima senang, yang ia anggap cukup harga duduk dalam perbendaharaan sejarah, yang barang kemas-kemasnya (harta miliknya) berguna untuk memelihara siapa yang sedang berdiri-dalam-hidup (berkuasa)", kini sudahlah tak mendapat penganggapan lagi oleh rakyat-rakyat Asia itu. Pun makin lama makin tipislah kepercayaan rakyat-rakyat itu, bahwa rakyat-rakyat yang memperbudakkannya itu, adalah sebagai "voogd" yang kelak kemudian hari akan "ontvoogden" mereka; makin lama makin tipislah kepercayaannya, bahwa rakyat-rakyat yang memperbudakkannya itu sebagai "saudara tua", yang dengan kemauan sendiri akan melepaskan mereka, bilamana mereka sudah "dewasa", "akil balig", atau "masak". Baca lebih lanjut

“Peran dan Tanggung Jawab Universitas dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.”

24 Des

Media akhir-akhir ini selalu menunjukkan bahwa banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Masalah demi masalah semakin menumpuk di negeri ini. Mulai dari mahalnya biaya pendidikan, kasus-kasus hukum yang tidak jelas permasalahannya, dan masih banyak kasus-kasus yang lain yang tak kunjung usai.

Pemerintah dan DPR yang menjadi tumpuan rakyat, tidak begitu banyak memberikan solusi. Ketika mengalami kegalauan perumusan kebijakan, pihak-pihak terkait selalu merujuk ke kampus. Kenapa? Karena kampus merupakan temple of education. Kampus merupakan tempat perumusan formula-formula di bidang sains, sosial-ekonomi, kesehatan, dan lainnya. Di sanalah rumus dan teori-teori dasar dipelajari. Kampus (universitas) merupakan tempatnya insan-insan akademis mempelajari teori murni dan penerapannya. Hal tersebut yang, menyebabkan kedudukan universitas di Indonesia teramat penting.

Peran universitas dalam kehidupan bernegara sangatlah vital. Seperti kita ketahui, universitas selalu menjunjung tinggi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni akademis, penelitian dan pengabdian masyarakat. Seharusnya, universitas selalu urun rembug dan urun produk dalam mengatasi masalah-masalah di Indonesia akhir-akhir ini. Universitas pastilah setia terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi. Seharusnya, Universitas memiliki sikap terhadap permasalahan-permasalahan di bidang lingkungan, kesehatan, hukum, pendidikan, dan lainnya. Selain tampil di lingkup nasional, Universitas juga harus mampu memberikan solusi terhadap permasalahan di daerah.

Sejauh manakah sikap Universitas terhadap kondisi yang serba kompleks di Indonesia sekarang ini?

Apa sajakah perumusan kebijakan yang ditelurkan Universitas di bidang Hukum, lingkungan, kesehatan, dan pendidikan?

Bagaimanakah kesiapan Universitas untuk menjadi garda terdepan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia?